Chat with us, powered by LiveChat

Kenyataan Rusia Dibalik Gemerlapnya Turnamen Bergengsi Piala Dunia 2018

Kenyataan Rusia Dibalik Gemerlapnya Turnamen Bergengsi Piala Dunia 2018

Rusia sepertinya menjadi negara paling beruntung setelah Brazil yang berhasil menjadi tuan rumah ajang Piala Dunia pada tahun 2018. Siapa sangka negara yang sebelumnya malah mengalami skandal kasus suap atas beberapa anggota Komite Tinggi FIFA, ternyata dinyatakan bebas dan melanjutkan posisi sebagai tempat penyelenggaraan acara tersebut. Padahal banyak pihak serta anggota FIFA lain menyangka jika keputusan tersebut dibatalkan dan menggantinya dengan negara lain.

Pada tanggal 2 Desember 2010, pihak Federasi Sepak Bola Internasional atau FIFA dengan resmi mengumumkan tuan rumah 2018 adalah Rusia. Saat itu juga bersamaan dengan berhasilnya Qatar menjadi tuan rumah di periode tahun 2034 mendatang. Jelas saja keputusan tersebut membuat curiga mengenai dugaan permainan kotor di baliknya. Kemudian diadakan sebuah investigasi oleh mantan pengacara Amerika Serikat untuk menyelidiki kasus tersebut. Sayangnya, hasil laporan tidak diumumkan dan langsung diberikan kepada badan yang bertanggungjawab atas hal tersebut. Sampai saat ini akhirnya masyarakat dunia mengetahui jika Rusia masih layak dan mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018.

Yang Mengejutkan Soal Rusia, Tuan Rumah Piala Dunia 2018

Turnamen Piala Dunia berlangsung pada tanggal 14 Juni sampai 15 Juli 2018, dilaksanakan di 13 kota serta belasan stadion Rusia terbaik serta bertaraf internasional. Pemerintah negara tersebut sudah dari lama mempersiapkan segala sesuatunya sampai rela menghabiskan anggaran dana belasan milyar dollar Amerika. Adapun perinciannya dipakai untuk membayarkan pajak pada FIFA, pembangunan tiap kota, penambahan fasilitas umum, sarana transportasi dan paling penting stadion sepak bola sekaligus tempat pelatihan atau training ground. Kabarnya, seluruh dana tersebut berasal dari aset negara serta uang publik. Oleh sebab itulah mengapa dunia menyebut Piala Dunia 2018 menjadi periode paling mewah dan meriah dibandingkan sebelumnya.

Di balik gemerlapnya acara yang berlangsung selama satu bulan itu, ternyata ada beberapa hal mengejutkan dimana mayarakat belum terlalu mengetahui. Pertama, Rusia dianggap sebagai salah satu negara tuan rumah paling lemah sepanjang sejarah sepak bola. Kedua, negara yang jadi rumah maskot serigala Zabivaka ini begitu mengharapkan keuntungan bisnis lewat perhelatan World Cup. Itulah juga alasan yang mendasari pemerintah mereka begitu ambisius menjadi tuan rumah tunggal.

Berkah Rusia Merupakan Tuan Rumah Paling Lemah?

Rusia selalu saja menjadi pembicaraan dunia selama menjabat sebagai tuan rumah dalam Piala Dunia tahun ini. Negara yang dipimpin oleh Presiden Vladimir Putih tersebut ternyata dianggap sebagai tuan rumah paling lemah dan mengecewakan. Hal ini dikarenakan peluang menang begitu kecil, walaupun sudah mendapatkan golden ticket untuk melaju ke babak final.

Pelatih tim nasional Rusia, Stainislav Chercesov mengatakan jika sebagai tuan rumah tim mereka harus kuat. Sedangkan untuk bisa berhadapan dengan Jerman akan dilakukan pada babak semi final atau bahkan final. Pendapat tersebut lantas dipandang sebagai sebuah fantasi karena merupakan sebuah tantangan besar bagi Rusia untuk berhasil melawan Mesir, Arab Saudi dan Uruguay. Sementara itu banyak pihak berkomentar dimana negara tersebut masih minim prestasi soal pertandingan sepak bola kelas internasional sehingga pengalamannya belum cukup banyak. Berbeda dengan negara-negara sebelumnya, contohnya seperti Brazil yang menjadi salah satu tim nasional terkuat sepanjang Piala Dunia.

Sempitnya kesempatan menang bagi Rusia menjadi tantangan tersendiri bagi sang pelatih. Cherchesov mengakui jika para pemainnya sudah sangat bagus, ada tiga anggota dengan prestasi tinggi dan berkompeten namun semuanya cidera. Viktor Vasin, Aleksandr Kokorin dan Georgi Dzhikiya absen dari Piala Dunia 2018 karena mengalami cidera sehingga tidak mampu bertanding. Padahal mereka memegang posisi paling penting yaitu sebagai lini pertahanan Rusia. Citra buruk negara tersebut bertambah ketika muncul kejadian kurang mengenakkan karena Konstantin Rausch dan Roman Neust├Ądter mendatangi diskotik setelah kalah dari Brazil. Kemudian keduanya juga mendappatkan hukuman dari ikatan sepak bola. Bisa diambil kesimpulan jika tim Rusia kekurangan pemain unggulan dan potensial dalam melangsungkan pertandingan Piala Dunia. Tidaklah heran jika negara lain serta masyarakat sekalipun memprediksi mereka bakal kalah dengan cepat karena lemahnya pertahanan membuat peforma tim menjadi tidak baik.

Hal lain yang membuat negara tersebut dianggap lemah karena faktor sejarah permainan tim nasionalnya. Saat Piala Dunia tahun 1994, 2002, dan 2014 Rusia berada di urutan paling bawah di grup. Kemudian juga mereka mengalami kekalahan di Euro 2016 atau Kejuaraan Sepak Bola Eriopa UEFA di Prancis sehingga membuat dunia meragukan kekuatan timnya. Ditambah lagi tidak ada satupun pelatih timnas Rusia bertahan lebih dari dua tahun karena kondisi tersebut. Sebelumnya, sejak tahun 1992 sampai sebelum Cherchesov masuk, telah ada sembilan pelatih yang memutuskan mengundurkan diri.

Rusia Harapkan Keuntungan Bisnis Piala Dunia 2018

Meskipun sejak awal telah dianggap sebagai tuan rumah paling lemah tetapi pihak Rusia tak pernah ambil pusing. Tim mereka tetap melaju dan mempersembahkan permainan sepak bola sebaik mungkin. Lagipula, kita semua telah melihat begitu bagusnya turnamen Piala Dunia 2018 karena pemerintahan Rusia telah mempersiapkan berbagai macam hal sejak bertahun-tahun lalu. Mulai dari megahnya gedung-gedung stadion, bandara standar internasional, fasilitas publik bertambah dan lain sebagainya. Tidak hanya para peserta saja yang dapat menikmati namun wisatawan dan penonton dari seluruh dunia yang datang langsung kesana. Satu hal lagi rahasia di balik Piala Dunia 2018 dimana Rusia mengharapkan keuntungan tersendiri. Lebih tepatnya untuk mengembangkan beberapa sektor dalam negara, seperti ekonnomi dan pariwisata. Selain agar bisa menutup modal yang dikeluarkan, hal tersebut juga menjadi investasi Rusia dalam jangka panjang.

Presiden FIFA, Sepp Blatter sendiri mengatakan jika Piala Dunia 2018 sangat unik dan menarik karena akan mengunjungi tempat-tempat baru yang berbeda dari sebelumnya. Selain menjadi tuan rumah turnamen, negara Rusia juga merupakan destinasi pariwisata dunia terbaik. Tentunya hal ini menjadi kesempatan terbaik bagi para turis sekaligus penonton Piala Dunia. Ditambah lagi pemerintah juga akan menghapus kewajiban visa yang terbilang sulit di Rusia untuk memudahkan para penonton. Kemudian mereka juga diperbolehkan melakukan perjalanan gratis dari satu satu kota ke lainnya dimana turut menyelenggarakan Piala Dunia. Dengan kata lain, ini menjadi kesempatan besar bagi masyarakat untuk datang dan berwisata ke negara tersebut. Secara tak langsung bertambahnya wisatawan asing akan mengembangkan dan meningkatkan sektor pariwisata sekaligus ekonominya. Tidak perlu susah payah melakukan promosi sampai ke luar negeri karena akan ada banyak sekali masyarakat dunia mengetahui jika Rusia merupakan negara menakjubkan.

Ternyata menjadi tuan rumah bukan berarti lepas begitu saja dari resiko. Seperti halnya yang terjadi pada Rusia, tuan rumah Piala Dunia 2018 dimana dianggap sebagai negara paling lemah untuk turnamen bergengsi tersebut. Dibalik berita tak mengenakkan tersebut, ternyata pemerintah Rusia sedang mempersiapkan strategi lain yaitu mengambil keuntungan sebanyak mungkin lewat Piala Dunia. Apalagi posisi sebagai tuan rumah menjadikan popularitas mereka naik drastis sehingga beberapa sektor turut berkembang seperti bidang pariwisata, ekonomi dan sebagainya.


Artikel Terkait Berita Bola

WhatsApp chat