Chat with us, powered by LiveChat

Peran Axel Witsel Sempurnakan Strategi Bermain Belgia Besutan Roberto Martinez

Peran Axel Witsel Sempurnahan Strategi Bermain Belgia Besutan Roberto Martinez

Siapa sangka bila Belgia melenggang dengan gagah di pertandingan perempat final Piala Dunia 2018 setelah berhasil mengalahkan timnas terkuat Brazil. Meskipun sebelumnya perjuangan mereka sangat panjang dan besar di babak kualifikasi tetapi tim arahan Roberto Martinez ini telah mengukir sejarah baru. Sepanjang kualifikasi, hanya satu negara saja yang berhasil mencuri angka yaitu Yunani. Sementara itu untui Estnia, Gibraltar, Bosnia, Sipurs sama sekali belum bisa mengungguli poin dari Belgia. Dengan begitu tim mereka mendapatkan total angka nyaris sempurna karena memenangkan 9 laga dan hanya satu kali saja bermain secara imbang. Setelah itu popularitas Belgia naik drastis dimana sebelumnya dianggap sebagai tim kuda hitam di turnamen skala internasional, namun kini berubah menjadi salah satu unggulan dunia. Hal ini diungkapkan oleh salah satu penulis bidang olahraga sepak bola dari Inggris, Jonathan Wilson. Ia mengungkapkan jika kini Belgia tengah berusaha memantaskan posisi berada diantara para negara kuat sepak bola seperti Inggris, Brazil, Kroasia dan sebagainya di Piala Dunia 2018. Ia bahkan mengakui jika negara tersebut menjadi yang paling kuat dan unggulan kelima persis di bawah Prancis dan lebih tinggi daripada Argentina.

Makin Kuatnya Para Pemain Belgia

Banyak hal melatarbelakangi sukses atau gagalnya suatu timnas negara dalam pertandingan sepak bola. Seperti halnya dengan Belgia yang mampu mengembangkan prestasi di Piala Dunia 2018 Rusia karena berhasil masuk ke babak perempat final dimana harus berhadapan dengan Prancis. Kabarnya, salah satu alasan mengapa negara tersebut pantas dicap unggul dan kuat adalah adanya skuat dengan formasi bagus. Bisa diperhatikan jika Belgia dipenuhi dengan para bintang lapangan mulai dari formasi lini depan sampai ke belakang sehingga membuat garis pertahanan dan penyerangnya juga maksimal. Mislanya saja di posisi belakang ada nama-nama kondang seperti Thibaut Courtois yang merupakan penjaga gawang asal Liga Inggris yang dianggap paling berprestasi. Ditambah dengan adanya dua bek tengah Toby Alderweireld, Tottenham Hotspur, dan Jan Vertonghen menjadi pusat kekuatan tim sepanjang permainan. Kemudian masih banyak lagi para pemain andalan Belgia yang disebar di beberapa titik lapangan, misalnnya seperti Eden Hazard, Kevin De Bruyne, Youri Tielemans, dan tentunya sang pemain keturunan Kono yaitu Romelu Lukaku. Ketika menghadapi Brazil, Lukaku tampil apik dan mengesankan karena pandai dalam mengumpan bola dan membuat Belgia mendapatkan kesempatan besar mencetak goalnya. Oleh karena itulah mengapa Lukaku mendapatkan kehormatan bermain di bagian lini depan dan menentukan kemenangan tim kesayangannya.

Jika dilihat dengan banyaknya pemain bagus dan potensian, Belgia tetap mempunyai kelemahan. Adapun slaah satu hal yang masih jadi pertanyaan besar adalah mengenai ketahanan mental para pemainnya dimana dianggap belum punya mental menjadi juara dunia.

Strategi dari pelatih Roberto Martinez

Belgia berlaga dengan formasi tiga bek 3-4-2-1 dan 3-4-3, 3-4-2-1 yang sebenarnya sulit sekali dimengerti oleh berbagai pihak dalam Piala Dunia 2018. Pada dasarnya, jenis formasi tersebut hanya digunakan untuk bertahan saja dengan fokus pada tingkat kedisiplinan bila dibandingkan kreativitas. Dengan kondisi pemain Belgia yang begitu bagus dan kompeten, banyak orang berpendapat kalau formasi tiga bek sangat tidak cocok dan bahkan bisa mengacaukan peluang menang. Akan tetapi sang pelatih Roberto Martinez tak terlalu memedulikannya dan sebelum pertandingan Piala Dunia 2018 dimulai, ia melakukan uji coba terlebih dahulu. Bentuk formasi diterapkan pada november 2017 saat bermain melawan Meksiko dan menghasilkan perolehan skor seimbang yaitu 3-3. Setelah itu muncul kritikan atas formasi 5-3-2 ciptaan Martinez yang dilakukan oleh Kevin De Bruyne. Ia juga menambahkan jika sampai sekarang Belgia belum menemukan taktik bertahan yang cocok. Terlebih lagi tim tersebut dipenuhi oleh para bintang lapangan dengan karakter menyerang dan ambisi menguasai bola. Meskipun hal tersebut bagus tetapi bisa menimbulkan masalah, contohnya saja saat berhadapan melawan Meksiko dimana para pemain Belgia kesulitan mempertahankan bola.

Percobaan sebelumnya memang gagal tetapi Roberto Martinez tidak mau mengganti strategi formasi timnya sama sekali. Uji coba kembali digunakan saat Belgia berhadapan dengan Mesir dan bermain dengan 3-4-2-1. Martinez menggunakan Yannick Carrasco di posisi wing-back sayap kiri karena mereka tidak mempunyai pemain bagus sama sekali di bagian tersebut. Pada saat itu salah satu pemain andalan Mesir, mohammed Salah absen sehingga membuat peforma timnya agak berantakan sehingga memudahkan Belgia melakukan penyerangan. Prestasi lain ditorehkan saat Belgia memenangkan dua pertandingan lagi, diantaranya 5-2 melawan Tunisia dan 3-0 terhadap Panama.

Axel Witsel Berperan Penting dalam Formasi Martinez

Nampaknya ada yang berbeda dari penampilan timnas Belgia di Piala Dunia 2018 dimana muncul nama pemain baru yang kemampuannya digadang-gadang oleh Roberto Martinez. Sebelumnya Belgia sangat mengandalkan Romelu Lukaku, salah satu keturuan Kongo dengan pawakan fisik tinggi besar sehingga memudahkan dirinya menggiring dan melakukan pertahanan bola. Namun kini Axel Witsel mulai dilirik dan diakui karena berhasil beradaptasi dengan cepat dan cerdas. Bahkan saking mantapnya hati Martinez, dirinya rela membuat Radja Nainggolan absen dalam laga Piala Dunia Rusia 2018 dan menggantinya dengan Axel Witsel. Nainggolan sendiri merupakan pemain keturunan asli Indonesia yang punya kemampuan luar biasa bahkan dianggap mematikan bagi timnas lain. Ia menjadi seorang pemain gelandang sempurna, mampu melakukan pertahanan kuat sekaligus menyerang cepat sehingga ditakuti oleh pemain lainnya. Salah satu alasan Nainggolan tidak ikut serta adalah karena Belgia mempunyai pemain bek lain seperti Kevin De Bruyne dan Eden Hazard. Ditambah lagi Martinez jauh lebih memilih gelandang dengan spesialisasi khusus seperti Witsel untuk menyempurnakan formasi 3-4-2-1.

Prediksi Martinez ternyata tepat dimana Axel Witsel berhasil menjaga keseimbangan timnas Belgia saat berlaga di Piala Dunia 2018, tepatnya ketika sedang menghadapi Tunisia dan Panama. Tanpa mengubah taktik sama sekali, sang pelatih percaya diri tetap menggunakan skema 3-4-2-1 seperti sebelumnya dengan menaruh empat penyerang handal di lini tengah, diantaranya yaitu Kevin De Bruyne. Kemudian menempatkan Yannick Carrasco sebagai wing-back kiri, Dries Mertens dan Eden Hazard sebagai penyerang.

Ketika sedang melakukan pertahanan, Witsel segera menutup ruangan yang ditinggalkan Carrasco untuk berusaha menyerang lawaan. Hal ini sangat penting karena posisinya mampu menahan serangan dari tim lain sekaligus melindungi Jan Vertoghen sebagai bek tengah di bagian sayap kiri. Witsel tetap pada formasi tersebut sampai akhirnya Carasco kembali dan iapun juga berada di titik awal seperti sebelumnya.

Selama pertandingan Piala Dunia 2018, peran dari Axel Witsel sangat membantu dan mendukung formasi 3-4-2-1 yang dibentuk oleh Martinez. Awalnya skema tersebut memang dianggap remeh mengingat para pemain Belgia begitu potensial tetapi harus meminimalkan kemampuan tersebut saat berada dalam formasi. Namun pada kenyataannya, sang pelatih berhasil membuktikan apabila strategi tersebut dapat membuat Belgia mencetak sejarah baru, salah satunya mengalahkan tim terkuat yaitu Brazil. Sempat ditakutkan bila Brazil akan mengalahkan Belgia dengan mudah, terlebih lagi adanya peran dari Neymar sebagai pemain handal, lincah namun juga licik karena dianggap sering melakukan aksi divingi untuk menyingkirkan lawannya.


Artikel Terkait Berita Bola

WhatsApp chat