Perkembangan Strategi Bermain Timnas Prancis di Piala Dunia 2018

Perkembangan Strategi Bermain Timnas Prancis di Piala Dunia 2018

Prancis adalah salah satu timnas peserta Piala Dunia Rusia 2018 yang berhasil memasuki babak final. Berkat sang pelatih, Didier Deschamps, kini masyarakat di negara tersebut begitu menggilai pertandingan sepak bola. Prestasi demi prestasi telah ditorehkan sepanjang sejarah dan kini tim mereka akhirnya dapat berhadapan langsung dengan para lawan bahkan musuh bebuyutan dalam satu lapangan.

Setelah perjalanan panjang dan dengan susah payah Belgia mengalahkan Brazil di perempat finak kemarin, mereka diihadapkan dengan Prancis. Namun negara minuman anggur tersebut memang merupakan lawan sebanding dan bahkan terlalu sulit untuk dianggap remeh. Ketika menit k-51, salah seorang pemain memberikan sundulan keras dan membobol gawang dari Thibaut Courois sehingga membuat tim tersebut menutup pertandingan dengan kemenangan 1-0 dari Belgia. Saat itu Prancis memang jauh lebih unggul meskipun skornya terpaut tipis tapi mampu melaju sampai babak final Piala Dunia 2018 untuk melawan Kroasia. Sementara itu Kroasia juga menjadi momok menakutkan baru bagi para pesert turnamen karena baru saja mencetk sejarah mengalahkan Inggris, sang legenda FIFA yang belum pernah dikalahkan sama sekali. Jelas jika hal tersebut membuat publik tertegun seakan tak percaya, negara penemu sepak bola dimana dipenuhi para pemain andalan malah harus tersingkir. Hal ini juga dikarenakan taktik dari para pemain yang cerdik, berusaha memanfaatkan kelemahan dari Inggris.

Meskipun terasa sangat sulit tetapi Deschamps berjanji kepada warga Perancis jika akan membuat mereka tidak kecewa dan membawa pulang kemenangan lagi. Ia bersama dengan anak didiknya akan berlatih keras dan memberikan hasil terbaik, ungkapnya ketika sedang diwawancara.

Strategi yang Awalnya Diragukan

Sebelum masuk ke babak final Piala Dunia 2018, berbagai pro kontra muncul dimana sedang memprdiksi Prancis apakah mampu menang atau malah harus pulang lebih awal. Salah satunya muncul dari mulut Patrick Urbin, seorang penulis berita sepak bola asal Prancis yang kurang percaya jika timnas negaranya bermain dengan apik dan merebut kemenangan. Mengenai hal ini ia lebih mengacu pada peran Didier Deschamps selaku pelatih yang selalu saja mengandalkan taktik bertahan daripada meyerang sehingga membuat tim tersebut tak kunjung melakukan goal. Tak hanya itu saja, Deschamps juga lebih memilih menyerang balik serta menekankan kemampuan individu bila dibandingkan dengan kelompok atau bekerja sama antar pemain. Padahal dalam pertandingan sepak bola kekuatan tim sangat menentukan kemenangan karena harus mengoper bola menuju gawang dan nantinya bakal dihadang oleh beberapa pemain lawan. Sangat mustahil sekali apabila Deschamps malah ingin timnya bermain sendiri-sendiri karena menganggap mereka punya kelebihan dan karakteristik masing-masing.

Salah satu contoh strategi Prancis diterapkan ketika melawan Australia. Pendekatan Deschamps yang terlalu berorientasi pada permainan individu malah membuat timnya kalang kabut sendiri. Pasalnya ketika Australia tengah mencoba menyerang balik, mereka terlihat sangat kesulitan. Di pertandingan pertama, prancis bermain dengan formasi 4-3-3 sementara lawannya 4-4-1-1. Dalam hal ini dapat dilihat jika strategi sepak bola Deschamps sama sekali tidak ada perkembangan. Buktinya ada dua pemain Australia yang jaraknya terlalu dekat sehingga membuat para penyerang mereka kebingungan karena tidak adanya suplai bola sama sekali dari formasi tengah. Paul Pogba, Corentin Tolisso dan N’golo Kante merusak garis pertahanan dari Prancis, ditambah lagi para pemain Prancis juga terlihat tidak kompak dan asik dengan diri sendiri saja.

Beralih ke babak kedua dimana Australia mencetak goal pertama dan menyamai Prancis dengan skor 1-1. Akhirnya Deschamps sadar dan mulai berani mengubah strategi sebelumnya dengan tujuan memperkuat pertahanan baru sekaligus meningkatkan kesempatan menyerang gawang lawan. Nabil Fekir dan Olivier Giround diminta masuk lapangan untuk menggantikan Dumbele dan Griezman. Kedua pemain sebelumnya dianggap tak bisa mengirim umpan pendek menuju lini depan sehingga ketika diganti maka taktiknya juga diubah menjadi serangan direct atau langsung. Sayangnya, Deschamps belum berhasil, padahal sudah susah payah memperbaiki taktik awal dan sampai harus mengganti pemain. Kemudian ia melakukan perubahan lagi dengan memasukkan Matuidi sebagai gelandang kiri dan menarik Tolisso. Sementara itu, Pogba diminta menggantikan posisi yang tadinya diisi oleh Tolisso sebagai penyerang sisi kanan dan sering bergerak ke bagian lini depan.

Perjuangan dari Deschamps ternyata tak sia-sia karena pergantian taktik serta pemain mampu membuat Prancis mencuri satu goal. Prancis resmi menang dikarenakan goal bunuh diri dari Aziz Behich yang sebelumnya telah dipancing terlebih dahulu oleh pergerakan Pogba di lini depan. Dalam permainan tersebut, Pogba dijuluki sebagai Man of the Match dengan kemampuan bertahan dan memberikan pancingan pada lawan.

Setelah menang terhadap Australia, Prancis bertanding dengan tim Peru tetapi lagi-lagi Deschamps mengubah strategi bermain. Meskipun taktik sebelumnya terbukti manjur, nampaknya ia benar-benar belum puas sama sekali sehingga masih terus bermain mencocokkan tiap strategi, kemampuan pemain dan peluang. Pogba masih menjadi bintang karena prestasinya di pertandingan melawan Australia kemarin. Kemudian Deschamps menggunakan formasi 4-2-3-1 pola asimetris agar Pogba dapat memaksimalkan pergerakannnya di lapangan. Ia juga membuat Matuidi bermain di flank kiri daripada menjadi pemain sayap karena sudah disesuaikan dengan kemampuannya sendiri. Matuidi akan menjadi double-pivot akan selalu bermain di dekat atau merapat dengan Kante dan Pogba.

Menerapkannya di Laga Piala Dunia 2018

Ketika masih berman di babak 16 besar, tepatnya menghadapi timnas Argentina, Deschamps menggunakan formasi 4-2-3-1 dengan bentuk asimetris. Kali ini mereka dapat tampil menarik dan berbeda dari biasanya, bukan hanya bertahan namun berusaha menyerang balik. Seperti belajar dari kesalahan masa lalu, Prancis tidak lagi mengandalkan permainan individu tetapi memaksimalkan kekuatan satu tim dengan Pogba sebagai sang pemotor. Seperti ketika Pogba mengalami kesulitan memberikan umpan ke Mbappe, pemain lain yaitu Pavard turut membantu. Matuidi yang berada di posisi bertahan bagian sayap juga terancam dengan adanya Hernandez tetapi mendapatkan dukungan dari Parvard. Sampai pada akhirnya goal keempat berhasil diciptkan dan menunjukkan apabila tim Prancis dapat bertanding secara kohesif dengan para pemainnya yaitu Matuidi, Kante, Giround, Griezmann, dan Mbappe yang saling bekerja sama. Bahkan peran dari salah satu bintang Argentina, Lionel Messi bisa ditaklukkan karena Matuidi melakukan intersep dengan baik.

Strategi Deschamps juga berlaku saat menghadapi Belgia di perempat final Piala Dunia 2018 kemarin. Meskipun saat babak pertama pendekatannya sangat sulit tetapi Prancis berhasil membangun serangan dengan sedikit perubahan taktik. Saat itu Pogba diminta bertahan untuk membantu Pavard menahan serangan dadakan dari Hazard. Haslnya Belgia hanya bisa memberikan 3 kali percobaan goal saja sedangkan Prancis sebanyak 11 kali lebih banyak.

Setelah melalui masa panjang uji coba berbagai macam strategi sepak bola, akhirnya Didier Deschamps menemukan yang paling cocok dengan para pemainnya. Formasi 4-2-3-1 asimetris terbukti menang mengalahkan Belgia sehingga membuat mereka tak mampu melaju ke babak terakhir atau final Piala Dunia 2018.


Artikel Terkait Berita Bola

WhatsApp chat